Curhat ke Tuhan…

Adalah Pain of Salvation, sebuah grup band prog-mteal yang membuat konsep musik yang menyertakan fans-nya untuk berkontribusi.

Judul lagu tersebut adalah Vocari Dei. Video yang disertakan, bukanlah video resmi, dan sepertinya tidak ada rilis video-klipnya. Video ini dipilih karena lebih mudah dimengerti.

Sambil menyimak video-nya, dibawah juga akan dilampirkan liriknya. Dari ke-20 orang tersebut, mana yang paling mendekati pesan anda ke Tuhan saat ini? :)

  1. “I just want you to speak to me.”
  2. “I’m still waiting for you, God. I pray because this hell to be finished. Goodbye, God. Goodbye to you all.”
  3. “I don’t trust in any God. I don’t know who God is, but I know what God should be.”
  4. “Well, take a look here, take a good look at what you’ve created!”
  5. “Hi, God. This is Lorenzo. I want to ask you something: Why life is so hard? Why love is so cruel? Why I can’t really be me, not someone else? I just want to be me.”
  6. “Hey, God, this is Jan Biel. I just called to thank you for being with me when my life seemed to fall apart. You carried me through my darkest hours and I’m very grateful for that. Thank you.”
  7. “Hi, God, it’s me, from Earth. I know you haven’t returned any of my previous call, but maybe you were simply not there. But here it goes again. I wanted to thank you for giving me the opportunity to be part of this world. But didn’t you also give us people the mind to explore and question? So… Where are you? And where have you been when we needed you the most?”
  8. ” It’s — speaking, I must be drunk or far away for I no longer believe in you anymore, so I thought you’re non-existent. ‘Cause I figured this out, for all the harm and the grief that you bring into this world – Either you’re a cruel entity for not changing things, or you don’t exist.”
  9. “Please tell me why this horrible things happen? Why did those two towers have to fall and how can you let this happen? Does there have to be such hatred in this world? Why must society struggle so hard for tolerance?”
  10. “I prayed every day for weeks now, why won’t you answer my prayers? Prove to me and so many others, why I should continue pray! I have faith to my friends and my family, isn’t that enough?”
  11. “Hello… hello? —” (Japanese: Shinjiteru? Shinjiteitai? “Do you believe? Do you want keep believing?”) (Dutch: Wie ben ik? Wie ben jij? “Who am I? Who are you?”) (Greek: “Please save dad, and please save mum.”)
  12. “Please God, if you exist, help me believe that the world is real, that I am real, and that everything is real, that we are more than just a coincidence”
  13. “This world is what we can give.”
  14. “Speak to me. I won’t ask you to save me. I just want you to speak to me.”
  15. “Hey… Did I apologize to you for… you know… I just want to say I’m sorry and… thank you. Oh, and one more thing: Please, help me fly.”
  16. “Please God, take me away from here, I can’t take anymore, they are devouring me… I’m so lost, I’m so lost… God?”
  17. “Kamisama-san, naze sensou? Naze shi? Naze kiga? Naniwodesuka? Omaeha naniwotameniiru? Sayonara.” (Japanese: Dear God, why is there war? Why is there death? Why is there starvation? What for? What is the reason of your existence? Good-bye.)
  18. “Ghia su Thee, anarotieme, ti imaste? Poso simantiki s’ afto ton kosmo? Pu pigenoume?” (Greek: “Hello, God. I wonder… what are we? What’s our importance in this world? Where are we going to?” )
  19. “Uhh… yeah, uhh… listen, God… umm… I just want to say a really big thank-you on behalf of… uhh, everybody. And… thanks for getting the whole thing started and… for getting it off the ground, but… I think, that this time we have really screwed things up and I am so, so sorry.”
  20. “I need you now. I need you.”

Marley dan Hachikō, pilih mana?

Kalau anda disuruh memilih dari kedua anjing tersebut, manakah anjing yang anda pilih? Apakah si Marley yang merupakan anjing terburuk (World’s Worst Dog)? Ataukah anda memilih Hachi (the faithful dog), si anjing yang sangat setia? Atau jangan-jangan anda belum kenal?

Marley

sumber: oxfordfilmfreak.files.wordpress.com

Anjing ini mendapatkan namanya, ketika sang majikan (Grogan) sedang berada dalam mobil dan mendengarkan lagu Bob Marley. Tanpa pikir panjang, diadopsilah nama penyanyi asal Jamaika tersebut. Marley merupakan anjing keturunan Labrador Retriever.

Hati-hati, anda jangan lantas percaya dengan wajah lucunya pada gambar diatas. Tapi lihatlah bagaimana dia terlihat begitu riang dan sangat aktif. Bahkan dalam cerita ini, Marley merupakan anjing yang sangat lasak, tidak bisa diatur, suka mengacau dan bahkan mendapatkan vonis sebagai anjing yang memiliki kelainan mental.

Tapi si Grogan, merupakan orang yang sangat bersyukur akan kehadiran Marley dalam kehidupan keluarganya. Kenapa? Karena Marley telah mengajarkan keluarganya akan pentingnya memberikan hati (kasih). Grogan sadar bahwa Marley sebenarnya memiliki hati yang murni, dia hanya hidup dalam naluri alamiahnya, dan tidak ada yang salah dengan itu. Di akhir ceritanya, si Grogan memberikan pesan moral:

A dog has no use for fancy cars or big homes or designer clothes. A waterlogged stick will do just fine. A dog doesn’t care, if you’re rich or poor, clever or dull, smart or dumb. Give ‘em your heart, and he’ll give you his. How many people can you say that about? How many people can make you feel rare and pure and special? How many people can make you feel, extraordinary?

Hachikō

Menurut catatan, Hachikō lahir pada tanggal 10 November 1923 dan tutup usia pada tanggal 8 Maret 1935. Hachikō adalah keturunan Akita, yang merupakan ras asli anjing di Jepang. Jenis anjing ini terkenal akan loyalitas dan kecerdasannya.

sumber: Wikipedia

Hachikō pada tahun 1924 dibawa ke Tokyo oleh Prof Ueno. Semasa kebersamaan mereka, setiap harinya Hachikō mengantar Ueno ke stasiun kereta, kemudian pada sore hari Hachikō akan datang ke stasiun tadi untuk “menjemput” Ueno. Aktivitas “antar-jemput” ini berlangsung hingga Mei 1925, ketika sang Prof tidak kembali ke stasiun akibat terkena stroke saat berada di universitas tempatnya bekerja.

Meskipun demikian, Hachikō tetap setia untuk datang pada sore hari. Hal ini dilakukan Hachikō untuk menanti kedatangan Ueno di stasiun tersebut. Aktivitas sore hari ini berlangsung hingga selama 9 tahun. Hingga akhirnya Hachikō diabadikan sebagai patung di depan pintu keluar stasiun, untuk mengingatkan tentang adanya seekor anjing yang sangat setia.

Kontroversi

Keberadaan anjing yang demikian bukanlah merupakan suatu hal yang mustahil. Namun, karena ini telah menjadi sebuah cerita, sudah sepantasnya untuk menempatkan sedikit rasa skeptis dari cerita tersebut walaupun ini merupakan kisah nyata. Disini hanya akan disajikan satu keraguan untuk masing-masing tokoh binatang tadi:

  • Marley. Diceritakan oleh seorang penulis kawakan, yaitu John Grogan. Dengan demikian, wajar jika muncul keraguan bahwa Marley sebenarnya hanyalah anjing biasa, yang kelakuannya pun tak ada yang istimewa. Hanya saja, Grogan mampu mengangkat segelintir keunikan-keunikan yang ada dan terjadi pada Marley untuk diangkat sebagai cerita.
  • Hachikō. Kalau dalam film, diceritakan bahwa Hachikō atas inisiatif sendiri mengantar Ueno ke stasiun. Akan tetapi, mungkin saja Ueno yang mengajak Hachikō untuk mendampinginya sampai stasiun.
    Terhadap kesetiannya menanti tuannya di stasiun, ada kemungkinan bahwa Hachikō datang ke sana hanya untuk sekedar mendapatkan yakitori yang seing diberikan penjual yakitori di stasiun tersebut. Hal ini didukung kuat oleh temuan postmortem bahwa di dalam perut Hachikō ditemukan yakitori.

Pun demikian, patut diingat bahwa kebijaksanaan kita adalah pada saat mengambil nilai-nilai yang baik dari segala apa yang terjadi. Kedua anjing dan kisahnya ini telah mengajarkan kita banyak hal, mulai dari kesetiaan hingga ketulusan dalam menerima yang lain apa adanya.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Marley_&_Me

http://www.jpn-miyabi.com/Vol.43/hachiko-1.html

http://www.jpn-miyabi.com/Vol.43/hachiko-2.html

http://www.johngroganbooks.com/

http://en.wikipedia.org/wiki/Hachikō

http://en.wikipedia.org/wiki/Akita_Inu

How many peopleHow many people

Susahnya memilih gitar

Sudah hampir 2 tahun jemari ini tidak menyentuh gitar. Meskipun bukanlah gitaris kelas mahir, tapi memainkan gitar hanya dengan memainkan kunci pun serasa sudah cukup untuk menyalurkan energi. Apalagi kalau memainkannya sambil mata tertutup.

Namun, diam-diam timbul juga hasrat untuk kursus gitar, setidak-tidaknya sampai ke tingkat bisa bermain dengan benar. Semua orang bisa saja bermain gitar dengan baik, tapi yang sulit adalah bermain dengan benar. Prinsip saya, kalau sudah benar maka kedepannya akan jauh lebih mudah. Bermain dengan benar adalah suatu pondasi yang maha kuat.

Sekarang, diputuskan untuk membeli sebuah gitar. Kriteria harga yang ditetapkan adalah maksimal 1,5 juta. Sebisa mungkin elektrik, agar volumenya bisa diatur (tidak ribut) dan bisa utak-atik dengan komputer nantinya.

Setelah coba survey harga via internet, ternyata banyak sekali pilihan gitar elektrik dibawah 1,5 juta. Mulai dari merk agak tinggi tapi bekas, hingga ke merk bawah tapi baru. Mana yang sesuai, ternyata memang sangat ribet.

Posisi saat ini adalah pemula. Tidak perlu yang bagus-bagus amat, yang penting kriteria standar-nya terpenuhi. Nah, sialnya, hingga saat ini belum didapat apa-apa saja yang menjadi kriteria standar sebuah gitar. Kira-kira apa yah? Ada yang bisa bantu?

Belum rusak, tapi diperbaiki?

Belakangan ini, sering ditemui jalan-jalan di Jakarta yang sedang dalam perbaikan. Beberapa titik yang sempat saya jumpai adalah di jalan Gatot Subroto dan MayJen Sutoyo. Tidak tertutup kemungkinan di jalan-jalan yang lain.

Kita patut bersyukur bahwa Pemda melakukan tugasnya dengan baik, sehingga kita dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan nyaman. Tetapi ada hal yang aneh, yang tidak dapat saya tahankan kerutan dahinya. Sesuatu yang janggal yang seolah-olah mementahkan rasa syukur tadi.

Keganjalannya adalah bahwa seingat saya, jalan-jalan itu tidaklah rusak berat. Bahkan masih mulus. Ingatan saya cukup baik, dan keyakinan saya pun beralasan sebab saya cukup sering melewati jalan-jalan tersebut. Jalan yang masih bagus, dibongkar dan diganti dengan jalan, yang menurut hemat saya, kurang baik kualitasnya.

Kini jalan-jalan itu sebagian telah menjadi belang, karena diganti dengan lapisan yang bukan aspal. “Perbaikan” yang dilakukan ada yang hanya sekitar 50M untuk 1 jalur, tapi ada juga yang cukup panjang, bahkan di depan kampus UKI, jalan tersebut dihancurkan terlebih dahulu untuk kemudian diganti dengan yang berwarna putih dengan panjang berkisar 100M untuk setidaknya 3 jalur.

Melihat dari kasus ini, sebenarnya apa yang sedang dikejar oleh Pemda DKI? Mungkinkah ini adalah proyek bagi-bagi kue, setelah dukungan banyak partai terhadap gubernur terpilih? Atau ini memang hanyalah strategi klasik dalam rangka meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha yang sangat minim dan melanggar hukum (alias korupsi)?

Choky Sitohang yang mujur

Kalau kita mengingat lagi MC pria yang kerap muncul di televisi, maka bisa dipastikan bahwa kebanyakan dari mereka berubah gender. Sebut saja Olga dan Ruben. Kedua MC top ini tampaknya sulit dikategorikan ke kelas Pria, dengan paradigma Victorian tentunya.

Berperangai layaknya banci memang menjadi nilai tersendiri bagi seorang MC. Umunya, mereka menjadi lebih lucu. Suasana pun menjadi lebih segar dan hidup meksi seringkali alur menjadi rancu.

Namun demikian, pasar atau dalam hal ini pemirsa, mulai dijenuhkan oleh seringnya banci-banci tampil di televisi. Pemirsa kehilangan sosok Pria. Sosok yang cukup gagah, berperawakan cukup ideal dan (mungkin ini yg paling penting bagi gadis-gadis) masih available/single.

Mungkin dari ketiga kategori diatas, untuk 1 dan 2, Ferdi Hasan masih masuk dalam hitungan kita. Ferdi cukup maskulin dan pembawaannya tidaklah banci. Namun, Ferdi tidak termasuk kateogri 3, padahal ini merupakan fakor yang cukup penting jika suatu acara ingin mendapatkan pemirsa sampingan (sebut saja demikian untuk pemirsa yang awalnya hanya ingin melihat sang pembawa acara).

Di tengah krisis ini, Choky muncul. Untuk kategori 1 dan 2, tidak usah kita ragukan lagi. Untuk kategori 3, tampaknya hingga saat ini belum ada cincin di jemari Choky. Maka kini perhatian produser acara televisi yang merindukan sosok Pria available, akan beralih ke Choky. Tentunya, hal ini tidak bisa juga kita hilangkan faktor acara franchise yang selama ini dibawa oleh Choky, tetapi pertanyaannya apakah Choky dulu atau fenomena krisis dulu?

Apapun itu, selamat buat Bang Choky, semoga makin sukses!

Lebih memilih Ice Age

Yup, itulah keputusan yang saya ambil ketika berada dalam pilihan antara Ice Age atau Transformers. Tapi tetap saja, akan lebih memilih King dan Garuda di Dadaku. Tetapi mari kita batasi untuk film luar saja.

ice age 3

 

Pada prinsipnya, sebelum menonton film saya akan menjadi pengamat. Media sosial yang ada saat ini, misalnya Facebook dan Twiter, adalah tempat yang bisa menjadi sumber. Khususnya Twitter disana akan banyak sekali muncul kesan-kesan dari orang lain di seluruh dunia yang memberi tanggapan atas film tersebut. Sedangkan di Facebook, anda terbatas pada komentar-komentar friend yang ada dalam jaringan anda.

Tanggapan pertama yang saya baca adalah dari Facebook. Ketika itu seorang teman berpendapat bahwa film Transformers cuma sebatas eyecandy. Ya, tentu saja! Apa lagi yang diharapkan dari film anak-anak yang diangkat dari komik? Apalagi ini adalah film yang masuk dalam kategori semua umur, sehingga cerita tidak menjadi penting atau bisa dikatakan diurutan kedua. Film ini harus menjual dari sisi yang lain. Tak ayal, hal itu adalah rona-rona visual yang menghibur mata. Anak-anak suka itu. Cerita? Yang penting jagoan awalnya kwalahan, kemudian dengan sentuhan semangat, kebaikan, cinta dan laian-lain atau apapun itu akhirnya bisa mengalahkan sang musuh. Hal inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menonton hasil unduhannya.

Bagaimana dengan Ice Age? Dari trailer yang disajikan pun, sudah mengundang selera untuk tertawa. Tapi tentu saja, format tertawanya yang harus menjadi perhatian. Keputusan untuk memilih film ini ketimbang Transformers adalah karena, berpegang pada prinsip bahwa, kalau mau sekalian film anak, ya tontonlah film drama anak-anak dan/atau yang berupa film animasi/kartun.

Dari hasil riset yang dilakukan secara sederhana, film ini memang telah menjadi favorit pemirsanya. Komentar-komentar yang didapat dari FaceBook dan Twitter, tampaknya tidak ada yang mengatakan bahwa film ini buruk. Semua mengatakan bahwa mereka hampir saja tewas di tempat karena sulit bernafas yag diakibatkan otot dada dan perut terlalu lelah. Tentu ini akibat tertawa yang amat sangat. Ya, siapa pun pasti ini hanyalah hiperbolik. Tetapi bisa disimpuljab bahwa film ini adalah film yang menarik.

Fakta menarik lainnya adalah didapat dari harian Kompas. Pada rubrik hiburan, dikabarkan bahwa keuntungan yang diperoleh dari film ini menyamai film Transformers. Agak terkejut juga, mengingat pada awal film Tranformers diluncurkan bioskop-bioskop di Jakarta membuka hingga 3 studio untuk film ini. Jelas ini merupakan pertanda bahwa film ini laku keras. Sedangkan Ice Age, hanya diberi 1 jatah studio. Dengan data keuntungan yang diperoleh tersebut, disimpulkan bahwa Ice Age memang lebih baik (khususnya di luar Indonesia) sehingga pemirsa rela mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan hiburan dari film ini. Film Transformers, akhirnya hanya akan saya saksiksan dari layar komputer saya saja.

 

(bagi penggemar film, untuk film Indonesia yang menarik misal Garuda di Dadaku, King, Laskar Pelangi, mohon tidak dibajak. Boleh dibajaka, asalkan anda telah menontonnya terlebih dahulu di bioskop beserta keluarga anda. Beri apresiasi bagi mereka yang telah berusaha membuat film yang baik)

Banner Menganggu

Sudah beberapa hari ini, saya tidak lagi membuka Kompas.com. Hal ini dikarenakan banner-nya yang cukup menganggu. Saya masih bisa menerima dengan banner-bannner segede gaban yang muncul di halaman muka. Untuk banner-banner tersebut biasanya saya langsung mencari tomol close atau skip

Tetapi kali ini banner yang ada cukup menganggu. Bahkan saya selalu terkaget-kaget kalau membuka website kompas.com. Setelah saya coa selidiki, ternyata ada satu banner yang menjadi sumber ketidaknyamanan saya:

gangguBanner tersebut memuat suara yang sangat mengagetkan. Sehingga ketika kita pertama kali akan mengakses Kompas.com, maka akan segera kita dapati suara tersebut. Pada awalnya saya tidak mengetahui dari mana asal suara tersebut, hingga saya selidiki.

Kekesalan saya ini coba saya utarakan di salah satu situs sosial, dan ternyata ada juga teman saya yang mengalami hal serupa. Pada awal saya bertemu dengan banner ini, saya sudah mencoba menguhubungi redaksi Kompas.com, tetapi halaman tersebut tidak bisa mengeksekusinya (submit). Tetapi beberapa waktu yang lalu, form tesebut akhirnya bisa juga saya submit. 

Semoga, Kompas.com dapat memahami keluhan ini.

Capres Lain Sudah Kalah Start

Melihat fenomena yang ada saat ini, tampak bahwa SBY menjadi satu-satunya orang yang sudah pasti menjadi CaPres. Tetapi kesiapan ini ternyata benar-benar menguntungkan SBY. Apa pasal? Karena orang-orang sudah ramai berbicara tentang siapa pendamping SBY.

Perbincangan ini tak ayal menjadi semacam kampanye yang implisit. Sudah ramai di berbagai media, terutama media online, yang mencari-cari pendamping ideal untuk SBY. Mulai dari milis, kuis online hingga voting. Sehingga, yang ada dibenak sebagian orang bukan lagi siapa Presiden Indonesia untuk periode 2009-2014, tetapi sudah beralih menjadi, siapa yang pantas menjadi Wakil Presiden Indonesia untuk periode 2009-2014.

Dengan demikian, isu tentang capres lain sudah menjadi kurang menarik. Capres lain seolah-oleh sudah kalah start. Sehingga untuk mengaburkan kembali keseimpulan pemilih perlu usaha yang benar-benar keras.

Well, selamat berjuang!

Mati sebagai apa?

Pikiranku seringkali dihinggapi pertanyaan, apakah benar surga itu ada? Apakah benar Tuhan itu ada? Apakah benar bahwa kehidupan yang abadi akan datang?

Pertanyaan ini selalu menjadi polemik. Mereka yang tidak percaya akan adanya Tuhan, tidak bisa menjawab bagaimana kehidupan bermula. Di lain pihak mereka yang setia kepada Tuhannya pun tak bisa berkata ketika siapa yang menciptakan Tuhan, dari mana datangnya Tuhan dan tidak jarang mengelak untuk segera melakukan penghinaan atas tubuh yang fana, yang pikirannya tidak bisa menjangkau logika Tuhan.

Mungkin benar bahwa spiritualitas adalah suatu objektifikasi dari kerinduan akan suatu pribadi yang bisa menjadi sandaran bagi manusia. Suatu sandaran yang selalu sabar, mengerti dan hadir dalam setiap waktu dan menemani manusia dalam kehidupannya. Bahkan manusia yang paling rasional pun memiliki kesunyian jiwa yang bisa terobjetifikasi ke dalam bentuk lain, misalnya saja percaya akan mitos.

Manusia yang religius mengobjetifikasi kerinduannya ini ke suatu pribadi yang mereka yakini sebagai asal muasal kehidupan, yaitu Tuhan. Kemudian ketika mati mereka akan kembali bertemu dengan Sang Pencipta. Dan jika beruntung, akan menikmati kehidupan yang abadi si suatu dunia yang sempurna yaitu Surga.

Tetapi hal yang dapat kita simpulkan disini adalah bahwa manusia belum memiliki jawaban atas bagaimana suatu kehidupan itu ada dan apa yang terjadi setelah kematian. Agama memberikan jawaban akan adanya surga dan neraka. Sedangkan yang lain, kematian adalah titik akhir. Benar-benar akhir, tidak ada lagi kelanjutannya. Tetapi mereka berdua, tetap tidak bisa memastikan yang sebenarnya. Jawaban mereka hanyalah berdasarkan keyakinan.

Tetapi kemudian aku berpikir, baiklah kita adakan saja keduanya. Lantas pertanyaannya, apakah anda siap untuk mati? Hidup yang singkat ini apakah sudah anda nikmati? Atau bayangkan saja jika anda sedang berada dalam pesawat yang sedang terbang dan mesinnya sedang terbakar? Apa reaksi anda? Takutkah? Jika ya, mengapa takut? Apa yang anda takutkan? Jika anda takut masuk neraka, bukankah berarti anda berjudi dengan Tuhan? Atau jika anda adalah yang tidak percaya akan Tuhan, mengapa musti takut? Toh tidak ada surga dan neraka?

Lantas aku mencoba mencari makna tentang keabadian. Aku tentu tidak ingin abadi, suatu saat nanti, jika kematian masih belum menghinggapi aku, pastilah aku akan merasa lelah. Sangat lelah, hingga ingin beristirahat selamanya. Pikiranku akhirnya sampai kepada kesimpulan bahwa surga dan neraka bena-benar ada. Tetapi, keduanya ada di dunia yang sedang kita jalani ini.

Apakah Musa, Yesus dan Muhammad abadi? Ya, mereka akan ada selamanya di dunia ini, baik di dalam hati pengikutnya. Prasasti dan ucapan mereka akan selalu menghiasi dunia. Dan itulah yang kukatakan keabadian! Apakah Sukarno-Hatta abadi? Ya, nama mereka akan selalu dikenang sepanjang masa. Jend Sudirman akan selalu menghiasi tiap-tiap kota di negri ini.

Di titik ini akirnya aku berada pada suatu kesimpulan akhir, akan mati sebagai apakah Aku?

Melaporkan Pajak SPT Tahunan

Jam 11 pagi, saya berangkat dari rumah untuk melaporkan pajak. Letak kantor pajak tersebut kira-kira 2KM dari rumah, sehingga saya harus menggunakan angkutan umum. Sekitar jam 11.20, saya sudah sampai disana.

Sudah menjadi kebiasaan, ketika memasuki suatu kantor atau biro atau apapun, saya sempatkan untuk bertanya kepada mereka yang berjaga di pintu. Entah itu SatPam, polisi, PKD, hansip dsb. Saat ini, mereka yang bertugas sebagai keamanan, biasanya juga dibekali dengan informasi-informasi ringan, yang berguna bagi pengunjung agar tidak salah dan bingung ketika sudah berada di dalam kantor tersebut. Strategi ini saya anggap sangat baik, mengingat terlalu mubazir jika hanya ditugaskan sebagai pengaman saja. Biasanya, saya menanyakan prosedur-prosedur dan kemana saya harus singgah untuk melakukan sesuatu (lapor SPT). Sehingga, sering kali pengumuman yang ditempel tidak saya perhatikan.

IMG 1028

Informasi yang saya dapatkan adalah bahwa pertama kali saya harus menuju meja pemeriksaan, untuk memeriksa kelengkapan surat. Meja yang disediakan cukup banyak, dan kursi pun cukup lowong. Hanya saja, dasar orang kita yang suka menerabas, meskipun sudah disediakan kursi untuk menunggu, tetapi tetap saja ingin lebih dulu meski harus berdiri dan mengacuhkan kursi yang kosong. Aneh. Saat ada kursi yang kosong langsung saja saya tempati. Kemudian, ada seorang ibu-ibu yang berdiri, meski dibelakangnya (disamping saya) ada juga yg kosong. Dugaan saya ini pasti ingin mencuri antrian. Karena saya ingin memberi “pelajaran” kepada mereka, begitu ada meja yang lowong, saya secepat kilat maju dan duduk untuk diperiksa kelengkapannya. Saya tidak peduli meskipun itu seorang ibu.

Kira-kira butuh 2 sampai 4 menit yang diperlukan untuk memeriksanya. Sesudah itu saya dipersilahkan mengambil nomor antrian untuk pelaporan. Saya dapat nomor 199, dan saat itu yang dipanggil adalah nomor 144, jadi masih harus menunggu 55 lagi. Saya duduk sambil membaca dan mendengarkan radio di cellphone dan sesekali melirik ke televisi yang disediakan untuk melihat berita. Kebetulan hari ini Kampanye damai dimulai. Tetapi, saya sempat melihat berita, dimana terjadi keicuhan kecil ketika Kampanye Damai berlangsung. Oh negriku, bisakah kita benar-benar memaknai apa yang sedang kita lakukan, barang sebentar saja?

Kemudian saya putuskan untuk berdiri karena nomor sudah mencapai 189. Sesampainya dipintu saya sempatkan memoto keadaan. Tidak ketinggalan saya foto keadaan meja pemeriksaan yang kacau balau itu. Tampak bahwa orang lebih suka mengantri sambil berdiri dan menyeruduk dari samping. (Tetapi kalau mau jujur, ini adalah kelemahan dari Kantor Pajak sendiri, karena pada gambar yang lain, orang lebih tertib, hal ini dikarenakan antrian jauh lebih jelas, baik menggunakan nomor antrian maupun urutan penyerahan)

IMG 1024

IMG 1026

Ketika saya berdiri, saya diberitahukan kepada satpam (yg juga pada saat awal saya tanya) bahwa nomor antrian tersebut tidak berlaku. Sungguh saya kaget dan sedikit kecewa. Apalagi mengingat saya sebelumnya sudah 3x bertanya/berkomunikasi, apalagi saya sempat 1x bertanya tentang detail nomor antrian (karena agak bingung dengan nomor antrian). Alasannya sederhana, informasi (ttg nomor antrian) yang dia dapat berasal dari meja pemeriksaan. Dan memang benar bahwa, seperti yang telah disampaikan sebelumnya), saya dipersilahkan untuk mengambil nomor antrian.

Atas informasi terbaru, saya dipersilahkan untuk meletakkan meletakkan map hijau. Kemudian saya antri duduk kembali. Kira-kira 10 menit kemudian, saya dipanggil, dan dinyatakan bahwa proses pelaporan pajak tahun ini telah selesai.

Proses sebenarnya tidak terlalu lama. Saya perkirakan (max) 30 menit untuk menyelesaikan semua proses. Tetapi karena kurangnya koordinasi antar staff Kantor Pajak, saya terpaksa membuang waktu 30 menit untuk hal yang sia-sia. Padahal pengumuman untuk tidak mengambil nomor antrian sudah dipasang di meja penyerahan map hijau. Mungkin saya juga salah, karena tidak membaca pengumuman tersebut. Tetapi saya lebih percaya ke orang ketimbang tempelan, karena asumsi saya, staff pasti lebih up-to-date tentang prosedur.

Semoga ini menjadi masukan bagi pihak Kantor Pajak dan staff-nya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.