Yup, itulah keputusan yang saya ambil ketika berada dalam pilihan antara Ice Age atau Transformers. Tapi tetap saja, akan lebih memilih King dan Garuda di Dadaku. Tetapi mari kita batasi untuk film luar saja.

ice age 3

 

Pada prinsipnya, sebelum menonton film saya akan menjadi pengamat. Media sosial yang ada saat ini, misalnya Facebook dan Twiter, adalah tempat yang bisa menjadi sumber. Khususnya Twitter disana akan banyak sekali muncul kesan-kesan dari orang lain di seluruh dunia yang memberi tanggapan atas film tersebut. Sedangkan di Facebook, anda terbatas pada komentar-komentar friend yang ada dalam jaringan anda.

Tanggapan pertama yang saya baca adalah dari Facebook. Ketika itu seorang teman berpendapat bahwa film Transformers cuma sebatas eyecandy. Ya, tentu saja! Apa lagi yang diharapkan dari film anak-anak yang diangkat dari komik? Apalagi ini adalah film yang masuk dalam kategori semua umur, sehingga cerita tidak menjadi penting atau bisa dikatakan diurutan kedua. Film ini harus menjual dari sisi yang lain. Tak ayal, hal itu adalah rona-rona visual yang menghibur mata. Anak-anak suka itu. Cerita? Yang penting jagoan awalnya kwalahan, kemudian dengan sentuhan semangat, kebaikan, cinta dan laian-lain atau apapun itu akhirnya bisa mengalahkan sang musuh. Hal inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menonton hasil unduhannya.

Bagaimana dengan Ice Age? Dari trailer yang disajikan pun, sudah mengundang selera untuk tertawa. Tapi tentu saja, format tertawanya yang harus menjadi perhatian. Keputusan untuk memilih film ini ketimbang Transformers adalah karena, berpegang pada prinsip bahwa, kalau mau sekalian film anak, ya tontonlah film drama anak-anak dan/atau yang berupa film animasi/kartun.

Dari hasil riset yang dilakukan secara sederhana, film ini memang telah menjadi favorit pemirsanya. Komentar-komentar yang didapat dari FaceBook dan Twitter, tampaknya tidak ada yang mengatakan bahwa film ini buruk. Semua mengatakan bahwa mereka hampir saja tewas di tempat karena sulit bernafas yag diakibatkan otot dada dan perut terlalu lelah. Tentu ini akibat tertawa yang amat sangat. Ya, siapa pun pasti ini hanyalah hiperbolik. Tetapi bisa disimpuljab bahwa film ini adalah film yang menarik.

Fakta menarik lainnya adalah didapat dari harian Kompas. Pada rubrik hiburan, dikabarkan bahwa keuntungan yang diperoleh dari film ini menyamai film Transformers. Agak terkejut juga, mengingat pada awal film Tranformers diluncurkan bioskop-bioskop di Jakarta membuka hingga 3 studio untuk film ini. Jelas ini merupakan pertanda bahwa film ini laku keras. Sedangkan Ice Age, hanya diberi 1 jatah studio. Dengan data keuntungan yang diperoleh tersebut, disimpulkan bahwa Ice Age memang lebih baik (khususnya di luar Indonesia) sehingga pemirsa rela mengeluarkan uangnya untuk mendapatkan hiburan dari film ini. Film Transformers, akhirnya hanya akan saya saksiksan dari layar komputer saya saja.

 

(bagi penggemar film, untuk film Indonesia yang menarik misal Garuda di Dadaku, King, Laskar Pelangi, mohon tidak dibajak. Boleh dibajaka, asalkan anda telah menontonnya terlebih dahulu di bioskop beserta keluarga anda. Beri apresiasi bagi mereka yang telah berusaha membuat film yang baik)

Advertisement