Belakangan ini, sering ditemui jalan-jalan di Jakarta yang sedang dalam perbaikan. Beberapa titik yang sempat saya jumpai adalah di jalan Gatot Subroto dan MayJen Sutoyo. Tidak tertutup kemungkinan di jalan-jalan yang lain.

Kita patut bersyukur bahwa Pemda melakukan tugasnya dengan baik, sehingga kita dapat menggunakan fasilitas umum tersebut dengan nyaman. Tetapi ada hal yang aneh, yang tidak dapat saya tahankan kerutan dahinya. Sesuatu yang janggal yang seolah-olah mementahkan rasa syukur tadi.

Keganjalannya adalah bahwa seingat saya, jalan-jalan itu tidaklah rusak berat. Bahkan masih mulus. Ingatan saya cukup baik, dan keyakinan saya pun beralasan sebab saya cukup sering melewati jalan-jalan tersebut. Jalan yang masih bagus, dibongkar dan diganti dengan jalan, yang menurut hemat saya, kurang baik kualitasnya.

Kini jalan-jalan itu sebagian telah menjadi belang, karena diganti dengan lapisan yang bukan aspal. “Perbaikan” yang dilakukan ada yang hanya sekitar 50M untuk 1 jalur, tapi ada juga yang cukup panjang, bahkan di depan kampus UKI, jalan tersebut dihancurkan terlebih dahulu untuk kemudian diganti dengan yang berwarna putih dengan panjang berkisar 100M untuk setidaknya 3 jalur.

Melihat dari kasus ini, sebenarnya apa yang sedang dikejar oleh Pemda DKI? Mungkinkah ini adalah proyek bagi-bagi kue, setelah dukungan banyak partai terhadap gubernur terpilih? Atau ini memang hanyalah strategi klasik dalam rangka meraup keuntungan sebesar-besarnya dengan usaha yang sangat minim dan melanggar hukum (alias korupsi)?

Advertisement